Ikuti Kami

Beranda » PENDIDIKAN » Sosio Sufistik Keluarga Samara

Sosio Sufistik Keluarga Samara

NIlai-nilai Sufistik Dalam Keluarga Samara

Oleh: Darwis – Mahasiswa Program Magister Hukum Keluarga Islam, STAIN Majene

Di tengah hiruk-pikuk zaman modern yang serba rasional dan serba cepat, banyak orang justru kehilangan arah dalam hal yang paling mendasar: bagaimana membangun rumah tangga yang bahagia. Cinta dipertaruhkan di atas ekspektasi yang dibentuk media sosial, pernikahan dijalani tanpa bekal spiritual yang cukup, dan ketika realitas rumah tangga tak seindah bayangan, banyak pasangan memilih menyerah. Angka perceraian yang terus merangkak naik di berbagai daerah adalah bukti nyata bahwa krisis ini bukan sekadar krisis personal, melainkan krisis kolektif yang berakar dari kekosongan spiritual.

Psikolog agama Jalaluddin Rakhmat pernah menyebut kegelisahan zaman modern ini sebagai semacam “sindrom neurotik” yang meluas—sebuah kegelisahan batin yang muncul karena manusia kehilangan pijakan transendental dalam hidupnya. Ironisnya, krisis semacam ini sering tidak disadari sebagai krisis spiritual. Banyak orang mengira persoalan rumah tangga mereka semata persoalan ekonomi, komunikasi, atau ketidakcocokan karakter. Padahal, jauh di baliknya, ada kekosongan jiwa yang tak pernah diisi dengan nilai-nilai yang menenteramkan—nilai-nilai yang dalam khazanah Islam dikenal sebagai nilai-nilai sufistik.

Apa Itu Nilai-Nilai Sufistik?

Sufistik berasal dari kata “sufi”, yang secara harfiah dikaitkan dengan kebiasaan kaum sufi awal mengenakan pakaian dari bulu domba (shuf) sebagai simbol kesederhanaan dan penolakan terhadap kemewahan dunia. Namun lebih dari sekadar simbol pakaian, nilai-nilai sufistik adalah buah dari pembersihan dan kemurnian hati yang seluruh orientasinya hanya tertuju kepada Allah semata.

Ulama tasawuf Abu Al-Wafa’ Al-Ghanimi At-Taftazani merangkum ciri-ciri umum tasawuf ke dalam lima hal: adanya nilai moral yang kuat, capaian fana atau lebur dalam realitas yang absolut, pengetahuan yang bersifat intuitif, lahirnya kebahagiaan batin sebagai karunia ketika seorang sufi mencapai maqamat tertentu, serta penggunaan simbol-simbol yang sarat makna tersirat. Tasawuf sendiri merupakan wujud dari ihsan—salah satu dari tiga pilar utama ajaran Islam selain Islam dan iman. Karena itu, sufistik pada dasarnya bukan ilmu yang eksklusif untuk segelintir orang yang menyepi di gua atau pesantren sufi, melainkan nilai yang bisa—dan semestinya—hidup dalam keseharian setiap Muslim, termasuk dalam kehidupan rumah tangga.

Inti dari nilai sufistik adalah kesadaran akan kehadiran Allah dalam setiap keadaan: rasa diawasi (muraqabah) yang membuat seseorang tidak mudah terbawa hawa nafsu, serta kebiasaan mengingat Allah (dzikrullah) melalui asma-asma-Nya yang agung. Ketika kesadaran ini tertanam dalam diri suami maupun istri, ia akan menjadi pengendali batin yang jauh lebih kuat dibanding sekadar aturan atau kesepakatan rumah tangga.

Keluarga Samara dalam Pandangan Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali, salah satu tokoh besar dalam tradisi tasawuf dan fikih, memberikan panduan yang sangat relevan tentang bagaimana keluarga sakinah, mawadah, warahmah (samara) dapat diwujudkan. Dalam karyanya Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa keharmonisan rumah tangga bukan kebetulan, melainkan hasil dari keseimbangan: keseimbangan antara hak dan kewajiban suami istri, tersalurnya kebutuhan batin dan lahir dengan cara yang diridai Allah, pendidikan anak yang baik, serta terjalinnya hubungan baik dengan keluarga besar dan masyarakat sekitar.

Al-Ghazali juga menekankan bahwa pernikahan membawa banyak kebaikan: lahirnya anak-anak saleh, terjaganya kehormatan diri, tertatanya kehidupan rumah tangga, bertambahnya keturunan, hingga pahala dari kesungguhan seorang suami mencari nafkah bagi keluarganya.

Lebih jauh, beliau menyebut empat tujuan mulia memiliki keturunan: mengharap cinta Allah karena bertambahnya umat manusia di bumi, mengharap cinta Rasulullah karena bertambahnya pengikut beliau, mengharap keberkahan dari doa anak yang saleh, dan mengharap syafaat bila anak tersebut wafat lebih dahulu sebagai penolong bagi orang tuanya di akhirat.

Semua ini menegaskan satu hal: pernikahan dalam pandangan sufistik bukan sekadar ikatan sosial atau pemenuhan kebutuhan biologis, tetapi jalan ibadah yang panjang menuju kehidupan akhirat yang kekal. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 21, Dia menciptakan pasangan agar manusia merasa tenteram dan tumbuh rasa kasih sayang di antara keduanya—sebuah tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berpikir.

Hak yang Seimbang, Bukan Beban Sepihak

Salah satu pesan penting yang sering terlewat dalam wacana rumah tangga adalah soal kesetaraan hak dan kewajiban. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 228 bahwa perempuan memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang baik (ma’ruf). Ayat ini menegaskan bahwa apa yang dibebankan kepada istri sejalan dengan hak yang harus dipenuhi suami terhadapnya. Pembagian peran—suami yang lebih banyak berperan di ruang publik dan istri yang lebih berperan dalam pengasuhan di rumah—bukanlah bentuk subordinasi, melainkan kerja sama yang saling melengkapi demi terciptanya ketenangan bersama.

Delapan Kunci Merawat Cinta

Konsep keluarga samara ini juga digambarkan secara lebih praktis oleh Munif Chatib, yang menguraikan delapan sikap penting dalam merawat pernikahan: menumbuhkan cinta dan kasih sayang yang berorientasi memberi, bukan menuntut; memperhatikan kualitas waktu bersama (quality time), bukan sekadar kuantitasnya; bersabar atas kekurangan pasangan; tidak membanding-bandingkan pasangan dengan orang lain; memusatkan perhatian pada kebaikan pasangan sembari menerima kekurangannya; saling menghormati dan menghargai; menjaga pandangan serta hati hanya untuk pasangan; dan saling menasihati dalam kebaikan.

Kedelapan hal ini, jika dicermati, sesungguhnya adalah penerapan konkret dari nilai-nilai sufistik dalam ranah yang paling intim: rumah tangga. Kesabaran adalah buah dari pengendalian hawa nafsu. Rasa syukur atas kebaikan pasangan adalah cermin dari hati yang bersih dari iri dan dengki. Menjaga pandangan adalah wujud dari kesadaran akan pengawasan Allah yang terus-menerus.

Menutup Krisis dengan Spiritualitas

Krisis rumah tangga yang banyak terjadi hari ini sesungguhnya bisa diredam jika pasangan suami istri kembali menghidupkan dimensi spiritual dalam kehidupan mereka. Nilai-nilai sufistik mengajarkan bahwa ketaatan kepada Allah tidak bisa digoyahkan oleh gejolak duniawi apa pun, sehingga persoalan rumah tangga—betapapun beratnya—dapat dihadapi dengan kepala dingin, kesabaran, dan ketenangan jiwa.

Keluarga samara, pada akhirnya, bukan keluarga yang tanpa masalah, melainkan keluarga yang mampu menghadapi masalah dengan ilmu, keterampilan, dan—yang paling penting—kedekatan kepada Allah. Tidak ada dominasi satu pihak atas pihak lain, melainkan kesetaraan dalam berbagi suka dan duka, sebagaimana sepasang sahabat yang saling menopang sepanjang perjalanan hidup. Wallahu a’lam. (*)

  • person
Bagikan Threads
Tulis Komentar
×

forum Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Kabag Persidangan DPRD Siap Sukseskan Perayaan HUT Sulbar ke-20

    Kabag Persidangan DPRD Siap Sukseskan Perayaan HUT Sulbar ke-20

    • 0Komentar

    INTUISI.ID, Mamuju – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Provinsi Sulawesi Barat yang ke-20, Kepala Bagian (Kabag) Persidangan Sekretariat DPRD, Musra Awaluddin, mewakili Sekretaris Dewan, hadir dalam rapat persiapan rangkaian kegiatan HUT Sulbar di Rumah Jabatan Sekretaris Daerah Provinsi Sulbar, pada Senin malam, 9 September 2024. Rapat ini dipimpin oleh Asisten III Pemerintah Provinsi Sulawesi […]

  • Soal Data Standar Pelayanan Minimal, Sekda Bontang Sebut Belum Utuh

    Soal Data Standar Pelayanan Minimal, Sekda Bontang Sebut Belum Utuh

    • 0Komentar

    INTUISI.ID – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyebutkan rendahnya Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kota Bontang untuk tahun 2023. Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bontang, Aji Erlynawati, menyatakan bahwa data tersebut kemungkinan belum tersaji secara lengkap sehingga tidak dapat disimpulkan demikian. “Data itu tidak lengkap. Saya ada kok datanya,” ucap Aji saat ditemui, […]

  • ASN Badan Penghubung Sulbar Dibekali Pengetahuan Pencegahan dan Penanganan Kebakaran

    ASN Badan Penghubung Sulbar Dibekali Pengetahuan Pencegahan dan Penanganan Kebakaran

    • 0Komentar

    Intuisi.id, Jakarta – Satgas Pemadam Kebakaran Kecamatan Cempaka Putih melaksanakan kegiatan sosialisasi pencegahan dan penanggulangan kebakaran di Kantor Badan Penghubung Daerah Provinsi Sulawesi Barat, pada Senin 09 Februari 2026. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapsiagaan Aparatur Sipil Negara (ASN) terhadap potensi bahaya kebakaran di lingkungan perkantoran. Dalam kegiatan tersebut, Satgas Pemadam Kebakaran […]

  • Enam Provinsi Sulawesi Bertarung di Liga Sepaktakraw Indonesia Regional, GOR Mamuju Jadi Saksi

    Enam Provinsi Sulawesi Bertarung di Liga Sepaktakraw Indonesia Regional, GOR Mamuju Jadi Saksi

    • 0Komentar

    Intuisi.id, Mamuju – Liga Sepaktakraw Indonesia Regional Sulawesi resmi bergulir di Gedung Olah Raga (GOR) Mamuju, Senin (6/7/2026), dengan total sembilan pertandingan yang mempertemukan enam provinsi se-Sulawesi dalam kategori regu putra dan regu putri. Kategori regu putra tampil dalam dua sesi. Sesi pagi pukul 08.00–10.00 WITA menghadirkan tiga laga: Sulawesi Utara kontra Gorontalo, Sulawesi Tengah […]

  • Dinkes Sulbar Terima Kunjungan JER KIA-Kespro Kemenkes RI

    Dinkes Sulbar Terima Kunjungan JER KIA-Kespro Kemenkes RI

    • 0Komentar

    Intuisi.id, Mamuju – Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat menerima kunjungan tim pelaksanaan Joint External Review (JER) Kesehatan Ibu dan Anak dan Kesehatan Reproduksi (KIA-Kespro) Kementerian Kesehatan RI, Rabu (19/11/2025), bertempat di Aula Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian review nasional terhadap capaian program KIA-Kespro selama 10 tahun terakhir, dengan […]

  • Bapperida Sulbar Dorong Kampus Patriot Jadi Pusat Riset dan Investasi Kawasan Transmigrasi

    Bapperida Sulbar Dorong Kampus Patriot Jadi Pusat Riset dan Investasi Kawasan Transmigrasi

    • 0Komentar

    Intuisi.id, Mamuju – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Sulawesi Barat menegaskan komitmennya menjadikan pembangunan Mess Patriot atau yang dijuluki Kampus Patriot sebagai strategi fundamental untuk mentransformasi kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis riset, inovasi, dan investasi kawasan. Penegasan tersebut disampaikan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bapperida Sulbar, Darwis Damir, […]

expand_less