Isra’ Mi’raj: Perjalanan Cinta antara Hamba dan Rabb-Nya
- DISKUSI
- calendar_month Kamis, 15 Jan 2026

H. Makdoem Ibrahim, S. Th. I., MA ( Ketua Umum Ikakas Kab. Mamuju )
PADA malam yang agung, Rasulullah ﷺ diperjalankan oleh Allah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu dinaikkan menembus langit demi langit, hingga ke Sidratul Muntaha. Bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan ruh, perjalanan cinta, perjalanan penghiburan bagi seorang Nabi yang hatinya sedang terluka.
Sebelum Isra’ Mi’raj, Rasulullah baru saja kehilangan dua penopang hidupnya: Khadijah, istri tercinta, dan Abu Thalib, pelindung dakwahnya. Tahun itu disebut ‘Aamul Huzn’ — tahun kesedihan. Dalam kondisi paling berat itulah Allah memanggil kekasih-Nya ke langit.
Seakan Allah berbisik: “Wahai Muhammad, jika penduduk bumi menyakitimu, maka langit terbuka untukmu.”
Dalam Isra’ Mi’raj, Rasulullah tidak meminta kekayaan, tidak meminta kekuasaan. Yang dibawa pulang justru shalat. Lima waktu yang menjadi tali penghubung antara kita dan Allah. Shalat adalah Mi’raj-nya orang beriman. Saat kita sujud, sesungguhnya jiwa kita sedang naik menghadap Tuhan.
Namun sering kali, kita shalat tanpa rasa. Kita sujud, tetapi hati kita berkelana ke mana-mana. Padahal Rasulullah menangis rindu ketika waktu shalat tiba, seraya berkata: “Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat.”
Shalat bukan beban, tapi pelukan Allah untuk hati yang lelah.
Isra’ Mi’raj juga mengajarkan bahwa setelah kesulitan pasti ada pengangkatan derajat. Setelah luka, ada cahaya. Setelah tangis, ada kemuliaan. Jangan pernah putus asa. Jika Allah mampu mengangkat Nabi-Nya ke langit dalam satu malam, maka Allah pun mampu mengangkat derajat hidup kita dalam sekejap.
Maka malam ini, mari kita bertanya pada diri sendiri:
Sudahkah shalat menjadi penyejuk jiwa kita?
Sudahkah sujud kita benar-benar merendahkan hati?
Sudahkah kita merindukan Allah sebagaimana Allah merindukan hamba-Nya?
Semoga Isra’ Mi’raj tidak hanya menjadi peristiwa yang kita kenang, tetapi menjadi titik balik untuk memperbaiki shalat, memperhalus akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Ya Allah, angkatlah kami dengan shalat sebagaimana Engkau mengangkat Nabi-Mu dengan Mi’raj. Lembutkan hati kami dalam sujud, kuatkan iman kami dalam ujian, dan pertemukan kami dengan Rasul-Mu di telaga Al-Kautsar kelak.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.
- person

Saat ini belum ada komentar