Bapperida Sulbar Sinkronkan Riset PAIR dengan Perencanaan Ekonomi Biru
- BERITA Pemerintahan
- calendar_month Rabu, 22 Apr 2026

Intuisi.id, Mamuju – Bapperida Provinsi Sulawesi Barat mulai mengarahkan langkah konkret untuk mengoptimalkan potensi sektor kelautan, khususnya komoditas rumput laut.
Hal ini terlihat dari keterlibatan aktif dalam riset lapangan internasional Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR), yang digelar di Hotel Grand Maleo, Selasa (21/4/2026).
Diskusi yang berlangsung dalam forum tersebut difokuskan pada penyusunan strategi penerapan ekonomi sirkular di industri rumput laut, mulai dari kepastian pasokan hingga tata niaga yang lebih adil bagi petani dan pelaku usaha.
Kepala Bapperida Sulbar, Amujib, menegaskan bahwa kehadiran pihaknya bukan sekadar mengikuti forum, tetapi memastikan hasil riset benar-benar terhubung dengan arah kebijakan pembangunan daerah.
Menurutnya, hasil kajian lapangan perlu diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan, khususnya RPJMD Sulawesi Barat 2025–2029, agar kebijakan yang diambil memiliki dasar data yang kuat.
“Partisipasi kami di forum ini untuk memastikan potensi di lapangan selaras dengan misi pembangunan daerah, terutama yang telah ditetapkan oleh Gubernur Sulbar Suhardi Duka,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Bapperida diwakili oleh Penelaah Teknis Kebijakan, Andy Ariskha Masdar, bersama Perencana Ahli Pertama, Ilman.
Andy menjelaskan, secara geografis Sulawesi Barat memiliki keunggulan berupa garis pantai yang panjang, yang menjadi modal utama dalam pengembangan ekonomi biru, khususnya pada sektor rumput laut.
“Potensi investasi di sektor ini sangat besar. Karena itu, kebijakan pemerintah perlu mendorong rumput laut sebagai komoditas unggulan yang mampu menopang indikator ekonomi biru,” jelasnya.
Lebih jauh, ia menyebutkan bahwa arah kebijakan tersebut telah tercermin dalam RPJMD Sulbar 2025–2029, yang mencakup beberapa fokus utama, mulai dari mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif berbasis kelautan, mempercepat pengentasan kemiskinan, hingga pembangunan infrastruktur yang tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Forum diskusi ini juga menjadi ruang kolaborasi lintas sektor. Sejumlah akademisi dari perguruan tinggi seperti Universitas Hasanuddin, IPB, Universitas Airlangga, hingga Universitas Sulawesi Barat turut memberikan perspektif ilmiah.
Selain itu, hadir pula instansi teknis terkait, di antaranya DPMPTSP Sulbar, DAGPERINKOP Sulbar, serta perwakilan Pemerintah Kabupaten Mamuju.
Melalui kolaborasi ini, Bapperida Sulbar memastikan bahwa hasil riset tidak berhenti sebagai kajian, tetapi benar-benar menjadi dasar kebijakan yang aplikatif dan berdampak langsung pada penguatan ekonomi masyarakat pesisir. (*)
- person

Saat ini belum ada komentar