Bapperida Sulbar Dorong Lahan Transmigrasi Marano Jadi Penopang Ketahanan Pangan
- BERITA Pemerintahan
- calendar_month 24 menit yang lalu

Intuisi.id, Mamuju – Kawasan Transmigrasi Marano di Kabupaten Mamuju menyimpan potensi lahan yang dapat dikembangkan untuk pertanian dan perkebunan.
Jika dikelola secara terarah, kawasan ini berpeluang menjadi salah satu penopang ketahanan pangan sekaligus membuka sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.
Potensi tersebut menjadi perhatian Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Sulawesi Barat. Lembaga ini mendorong agar pengembangan kawasan transmigrasi tidak hanya berfokus pada permukiman, tetapi juga diarahkan menjadi kawasan ekonomi produktif berbasis potensi lokal.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan Survei dan Diskusi Terbatas bertajuk “Intervensi HPL pada Kawasan Transmigrasi” di Aula Hotel Lestari, Mamuju, Senin (2/11/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sama Kementerian Transmigrasi RI dan Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada (PSLH UGM) untuk memperkuat basis data serta perencanaan pemanfaatan lahan di kawasan transmigrasi.
Mewakili Kepala Bapperida Sulbar, Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan, H. Arjanto, hadir bersama Fungsional Perencana Ahli Muda Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam, Muhammad Athar. Kegiatan ini juga melibatkan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Sulbar, Badan Pertanahan Nasional (BPN), serta pemerintah desa dan kelurahan di Kecamatan Kalukku.
Arjanto mengatakan, kawasan Transmigrasi Marano yang mencakup wilayah Sinyonyoi, Uhaimate, dan Pammulukang memiliki potensi sumber daya lahan yang dapat dikembangkan untuk berbagai kegiatan produktif.
“Kawasan Transmigrasi Marano memiliki potensi sumber daya lahan yang dapat dioptimalkan untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya melalui pengembangan pertanian hortikultura, tanaman pangan, dan perkebunan,” kata Arjanto.
Menurut dia, pemanfaatan lahan perlu didukung perencanaan yang terarah agar mampu meningkatkan nilai ekonomi kawasan sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat setempat.
Bapperida Sulbar juga mendorong agar pengembangan kawasan tersebut diselaraskan dengan perencanaan sektor pertanian, hortikultura, dan perkebunan. Dengan demikian, pemanfaatannya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terhubung dengan agenda pembangunan ekonomi daerah dan penguatan ketahanan pangan.
Kepala Bapperida Sulbar, Amujib, menambahkan bahwa pengembangan kawasan transmigrasi membutuhkan dukungan infrastruktur dan konektivitas wilayah. Akses yang memadai diperlukan agar kegiatan produksi, distribusi hasil pertanian, serta mobilitas masyarakat dapat berlangsung lebih efektif.
“Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pertanahan, perguruan tinggi, dan pemerintah desa, pengembangan Kawasan Transmigrasi Marano diharapkan dapat berlangsung secara terarah dengan memperhatikan aspek kepastian pengelolaan lahan, keberlanjutan lingkungan, serta kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Pengembangan kawasan ini juga perlu memperhatikan kepastian pengelolaan lahan dan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, penguatan data dan koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting sebelum potensi lahan diarahkan ke program pemanfaatan yang lebih konkret.
Upaya tersebut sejalan dengan arah pembangunan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melalui Panca Daya Gubernur Suhardi Duka, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan, mengurangi kemiskinan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperkuat infrastruktur dan konektivitas wilayah.
Dengan perencanaan dan pengelolaan yang tepat, Kawasan Transmigrasi Marano diharapkan dapat berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi perdesaan. Potensi lahannya tidak hanya menjadi aset kawasan, tetapi juga dapat memberi nilai tambah bagi produksi pangan dan pendapatan masyarakat. (*)
- person

